Beranda » Blog » Cara Menetapkan Periode Transaksi Saat Mengelola Transaksi Barang

Cara Menetapkan Periode Transaksi Saat Mengelola Transaksi Barang

Cara Menetapkan Periode Transaksi Saat Mengelola Transaksi Barang

Pernah menemukan stok fisik sudah berkurang, tetapi penjualan belum muncul di laporan bulan berjalan, atau sebaliknya? Masalah seperti ini biasanya bukan karena kurang teliti, melainkan karena periode transaksi tidak ditetapkan secara konsisten. Dengan aturan periode yang jelas, tim operasional, gudang, dan akuntansi bisa menutup bulan lebih cepat, mengurangi selisih, dan membuat laporan persediaan serta laba rugi lebih dapat dipercaya.

Memahami apa yang dimaksud “periode transaksi” dan mengapa sering keliru

Periode transaksi adalah penentuan kapan sebuah kejadian dicatat sebagai transaksi dalam sistem, misalnya pembelian, penerimaan barang, pengeluaran barang, penjualan, atau retur. Di lapangan, satu kejadian bisa punya beberapa tanggal: tanggal PO, tanggal surat jalan, tanggal barang tiba, tanggal faktur, hingga tanggal pembayaran. Jika tiap orang memilih tanggal berbeda, hasilnya data tidak sinkron meski dokumennya lengkap.

Dalam praktik di Indonesia, pilihan tanggal juga berdampak pada pelaporan keuangan dan pajak, misalnya PPN pada transaksi kena pajak. Artikel ini fokus pada disiplin periode untuk akurasi operasional dan pembukuan, bukan nasihat legal atau pajak.

Agar konsisten, pisahkan dua hal: kapan aktivitas fisik terjadi (barang bergerak) dan kapan dokumen komersial dibuat (invoice/faktur). Keduanya sama penting, tetapi tidak selalu jatuh pada hari yang sama.

Menetapkan tanggal pengakuan untuk tiap jenis transaksi barang

Langkah paling efektif adalah memilih satu tanggal acuan (tanggal pengakuan) untuk setiap tipe transaksi. Tanggal acuan ini harus mencerminkan kejadian yang paling bisa diverifikasi dan paling relevan dengan dampak stok serta nilai persediaan.

Berikut pedoman yang umumnya bekerja baik untuk gudang dan akuntansi, terutama bila Anda ingin stok dan nilai persediaan bergerak secara logis:

  • Pembelian (penerimaan barang): gunakan tanggal barang diterima dan lolos pemeriksaan (tanggal GR/BAST), karena pada saat itu stok secara fisik bertambah.
  • Penjualan (pengeluaran barang): gunakan tanggal barang keluar gudang/terkirim (tanggal DO/surat jalan), karena stok berkurang saat barang benar-benar dilepas.
  • Retur penjualan: gunakan tanggal barang retur diterima dan diverifikasi, agar stok tidak naik sebelum barang benar-benar ada.
  • Retur pembelian ke pemasok: gunakan tanggal barang keluar untuk retur, karena pada saat itu stok berkurang.
  • Transfer antar gudang: gunakan tanggal keluar dari gudang asal untuk mengurangi stok asal, dan tanggal terima di gudang tujuan untuk menambah stok tujuan (dua event, satu referensi dokumen).
  • Penyesuaian stok (adjustment): gunakan tanggal pelaksanaan stok opname/hasil investigasi disetujui, bukan tanggal saat data dimasukkan.

Contoh sederhana: barang dikirim 30/06, tetapi invoice baru dibuat 02/07. Jika penjualan diakui 02/07, stok Juni terlihat lebih besar dari realita dan margin Juni bisa salah. Hal ini terutama terjadi bila biaya barang sudah tercatat melalui penerimaan sebelumnya.

Untuk transaksi yang melibatkan invoice dan pajak, pastikan tanggal dokumen pajak mengikuti ketentuan yang berlaku. Dari sisi operasional, konsistensi tanggal pengakuan untuk pergerakan barang sangat membantu rekonsiliasi.

Buat aturan cut-off bulanan yang bisa dijalankan di lapangan

Aturan tanggal pengakuan akan efektif bila didukung cut-off, yaitu batas waktu penutupan transaksi periode tertentu. Tanpa cut-off, transaksi yang masuk ke bulan berikutnya akan terus terjadi karena dokumen terlambat atau input ditunda.

Praktik realistis biasanya menetapkan jam cut-off di hari terakhir bulan dan memberi jendela koreksi terbatas. Misalnya, transaksi fisik sampai 30/06 pukul 18.00 harus sudah memiliki dokumen minimal (surat jalan/BAST) dan diinput paling lambat H+1 atau H+2. Koreksi setelah itu wajib lewat persetujuan.

Agar cut-off tidak menjadi beban, definisikan dokumen minimal per transaksi. Contohnya: penerimaan butuh surat jalan pemasok dan hasil QC singkat; pengeluaran butuh picking list dan surat jalan; transfer butuh dokumen pengiriman internal dan bukti terima.

Selain itu, sepakati perlakuan untuk kasus yang sering terjadi berikut ini:

  • Barang datang akhir bulan, QC tertunda: putuskan apakah barang masuk ke stok “karantina” (tidak siap jual) pada tanggal datang, lalu dipindah ke stok siap saat QC selesai.
  • Pengiriman sudah jalan, bukti terima terlambat: tetap akui pengeluaran pada tanggal surat jalan, lalu pantau sebagai outstanding delivery untuk mengurangi sengketa.
  • Backdate input: batasi peran yang boleh backdate dan wajibkan alasan serta lampiran dokumen, supaya jejak audit rapi.

Untuk organisasi multi-gudang, cut-off perlu selaras antar lokasi. Jika gudang A sudah tutup tetapi gudang B masih input untuk periode yang sama, transfer bisa menggantung dan membuat selisih antar lokasi terlihat lebih besar dari sebenarnya.

Bila Anda sedang menyelaraskan alur antar lokasi, rujukan praktik yang relevan ada di panduan penyelarasan manajemen stok multi-lokasi, terutama pada bagian standardisasi proses dan rekonsiliasi antar gudang.

Kontrol dan rekonsiliasi memastikan periode benar, bukan sekadar aturan di dokumen

Setelah aturan periode ditetapkan, tantangan berikutnya adalah memastikan aturan itu benar-benar dijalankan dan cepat terdeteksi saat ada penyimpangan. Kontrol yang baik tidak harus rumit, tetapi harus rutin dan memiliki pemilik yang jelas.

Mulailah dengan rekonsiliasi harian atau mingguan untuk transaksi bernilai besar atau yang sering bermasalah. Contohnya, cocokkan daftar surat jalan keluar dengan transaksi pengeluaran di sistem, atau cocokkan penerimaan barang dengan invoice pemasok untuk memastikan tidak ada penerimaan yang belum ditagihkan atau sebaliknya.

Berikut kontrol ringan yang biasanya memberikan dampak besar:

  • Laporan transaksi backdate: tinjau siapa, kapan, dan alasan perubahan tanggal, lalu kunci bila polanya berulang.
  • Daftar dokumen menggantung: surat jalan tanpa posting, penerimaan tanpa QC final, transfer tanpa bukti terima.
  • Uji cut-off akhir bulan: ambil sampel transaksi H-2 sampai H+2 dan pastikan tanggal pengakuan sesuai aturan.
  • Rekonsiliasi stok vs kartu persediaan: cek item fast-moving dan item bernilai tinggi lebih sering.

Jika ada selisih, jangan langsung menambal dengan penyesuaian. Telusuri akar masalahnya: apakah salah memilih tanggal acuan, dokumen terlambat, atau ada langkah proses yang tidak dilakukan (misalnya transfer tanpa bukti terima). Perbaikan proses biasanya menurunkan kebutuhan adjustment di bulan-bulan berikutnya.

Pada akhirnya, periode transaksi yang konsisten membuat angka persediaan lebih stabil, mempersingkat closing, dan mengurangi debat antar tim saat audit internal. Anda juga lebih mudah menjelaskan perbedaan sementara, misalnya delivery akhir bulan yang wajar masih outstanding.

Mulailah dengan menyepakati satu tanggal acuan per transaksi, lalu uji cut-off selama dua siklus penutupan.

Pelajari fitur transaksi dan status dokumen: KartuStok.com