Koordinasi stok di beberapa gudang sering terasa seperti memadamkan banyak kebakaran sekaligus. Satu lokasi kelebihan stok, lokasi lain kosong, dan data sistem sering tidak dapat dipercaya. Dengan pengelolaan kartu persediaan yang tepat, kondisi kacau itu bisa diubah menjadi aliran informasi yang rapi dan mudah diprediksi.
Mengenali sumber kekacauan stok di banyak lokasi
Sebelum membahas peran kartu persediaan, penting melihat langsung sumber ketidakteraturan. Biasanya masalah muncul dari pencatatan mutasi yang tidak konsisten, perbedaan prosedur antar gudang, dan data yang terlambat diperbarui.
Dalam operasi multi lokasi, satu transaksi yang terlewat di gudang kecil bisa memicu keputusan pembelian yang salah di kantor pusat. Akibatnya tim pembelian mengira stok aman berdasarkan laporan, padahal rak di gudang kosong.
Kartu persediaan adalah catatan kronologis tiap pergerakan barang: masuk, keluar, dan mutasi antar gudang. Jika kartu ini digunakan dengan standar yang sama di semua lokasi, Anda punya satu bahasa untuk membicarakan stok, terlepas dari siapa yang mencatat dan di gudang mana barang disimpan.
1. Satukan format dan aturan kartu di semua gudang
Banyak perusahaan sudah memakai kartu persediaan, tetapi tiap lokasi punya format berbeda. Perbedaan kolom, istilah, bahkan penulisan tanggal membuat data sulit digabung dan dianalisis.
Langkah pertama adalah menyamakan struktur kartu: kolom tanggal, kode barang, nama barang, satuan, saldo awal, masuk, keluar, saldo akhir, dan keterangan. Tambahkan identitas lokasi atau kode gudang agar setiap kartu merujuk ke lokasi fisik yang jelas.
Setelah format disepakati, buat aturan tertulis yang sederhana, misalnya:
- Setiap transaksi harus dicatat pada hari yang sama saat terjadi.
- Tidak boleh ada penghapusan; koreksi dilakukan dengan pembalikan dan catatan alasan.
- Kode barang wajib mengikuti master data yang sama untuk semua gudang.
Jika Gudang A menulis “GULA 1KG” dan Gudang B menulis “GULA PASIR 1KG” untuk barang yang sama, susah mengukur stok total. Kartu persediaan yang distandarkan memaksa semua lokasi merujuk pada satu kode dan nama seragam.
2. Pakai kartu persediaan untuk menentukan batas minimum dan mutasi
Risiko kehabisan stok di multi lokasi sering timbul karena tiap gudang memesan sendiri berdasarkan perkiraan masing-masing. Akibatnya tidak ada panduan jelas kapan perlu pengisian ulang atau dari mana pasokan harus datang.
Dengan kartu persediaan yang rapi, Anda bisa menghitung rata-rata pemakaian per periode di setiap lokasi. Dari sana tentukan dua angka penting: minimum stock dan reorder point per lokasi.
Contoh sederhana:
- Rata-rata pemakaian harian di Gudang Cabang: 20 unit.
- Lead time pasokan dari Gudang Pusat: 3 hari.
- Safety stock: 20 unit.
Maka reorder point di Gudang Cabang adalah 20 x 3 + 20 = 80 unit. Angka ini dicantumkan di kartu persediaan atau sistem yang mengacu pada kartu tersebut. Saat saldo di kartu mendekati 80 unit, staf gudang tahu untuk mengajukan permintaan mutasi atau pembelian.
Jika Anda sedang menilai memilih aplikasi kartu stok terbaik untuk UMKM, jadikan logika batas minimum dan reorder point ini salah satu kriteria utama supaya kebijakan di lapangan bisa dipantau otomatis.
3. Kendalikan mutasi antar gudang dengan dokumen terhubung
Di lingkungan multi lokasi, mutasi antar gudang sering jadi titik rawan selisih stok. Barang keluar dari Gudang A tapi belum dicatat masuk di Gudang B, sehingga sistem terlihat stok sedang dalam perjalanan tanpa catatan lengkap.
Kartu persediaan memperbaiki proses ini jika setiap mutasi melewati rangkaian dokumen yang konsisten. Minimal harus ada tiga lapisan pencatatan: dokumen fisik (surat jalan atau form mutasi), kartu persediaan di gudang asal, dan kartu persediaan di gudang tujuan.
Alurnya bisa diatur seperti berikut:
- Gudang asal membuat surat jalan dan mencatat keluar di kartu persediaan dengan nomor dokumen yang sama.
- Gudang tujuan menolak atau menerima berdasarkan surat jalan tersebut, lalu mencatat masuk pada kartu dengan nomor yang identik.
- Tim pusat melakukan rekonsiliasi berkala antara mutasi keluar dan masuk, sehingga mutasi yang “nyangkut” segera terdeteksi.
Dengan pola ini, setiap pergerakan barang selalu meninggalkan jejak di dua kartu persediaan. Jika salah satu pihak lupa mencatat, selisih akan terlihat saat Anda membandingkan daftar mutasi antar gudang.
4. Satukan pencatatan harian dan rekonsiliasi fisik berkala
Kartu persediaan berguna hanya jika angka di kertas atau aplikasi mendekati kondisi rak sebenarnya. Di multi lokasi, perbedaan kedisiplinan antar tim mudah menumpuk menjadi selisih besar tanpa rekonsiliasi yang rutin.
Bangun kebiasaan dua tahap: pencatatan harian dan pengecekan fisik berkala. Pencatatan harian berarti setiap barang masuk atau keluar langsung dicatat di kartu sebelum dokumen diserahkan ke administrasi.
Tentukan jadwal stok opname yang realistis: harian untuk barang bernilai tinggi atau cepat bergerak, dan mingguan atau bulanan untuk barang lain. Saat stok opname, jumlah fisik dibandingkan dengan saldo di kartu persediaan di gudang tersebut.
Jika ada selisih, gunakan kartu sebagai riwayat untuk menelusuri penyebab: transaksi yang terlupa dicatat, dokumen hilang, kesalahan input, atau potensi kehilangan barang. Catat koreksi dengan jelas agar tim lain yang membaca kartu memahami konteks perubahan angka.
5. Integrasikan kartu persediaan dengan pelaporan manajemen
Di banyak perusahaan, kartu persediaan berhenti di level gudang dan tidak masuk ke pelaporan manajemen. Akibatnya kepala operasional hanya menerima rekap bulanan yang terlambat untuk mencegah kehabisan stok di cabang tertentu.
Padahal jika data dari kartu di semua lokasi dikompilasi secara rutin, Anda dapat membangun indikator kunci yang berguna. Misalnya tingkat perputaran barang per lokasi, frekuensi kehabisan stok, lead time mutasi aktual, dan akurasi pencatatan per tim.
Gunakan indikator tersebut untuk keputusan taktis, seperti:
- Memindahkan stok buffer ke gudang dengan permintaan yang lebih fluktuatif.
- Menambah batas minimum untuk barang yang sering habis di lokasi tertentu.
- Merevisi jadwal pengiriman rutin dari pusat ke cabang berdasarkan pola konsumsi nyata.
Ketika manajemen menganggap kartu persediaan sebagai sumber data utama, bukan sekadar dokumen gudang, tim lapangan cenderung lebih disiplin mencatat. Mereka tahu angka yang ditulis memengaruhi keputusan pembelian, rencana promosi, dan komitmen layanan ke pelanggan.
Kunci mengurangi risiko kehabisan stok di berbagai lokasi adalah menjadikan kartu persediaan sebagai sistem saraf informasi yang konsisten, terbaca, dan digunakan aktif dalam pengambilan keputusan harian.
Cari solusi pencatatan stok multi-gudang yang sederhana. Cek KartuStok
